Pelaksanaan kegiatan selama dua hari tersebut dirancang sebagai wadah transfer pengetahuan dan penguatan karakter bagi para pecinta alam muda. Kolaborasi dengan Perhutani memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan materi eksklusif mengenai teknik pembibitan dan manajemen hutan berkelanjutan secara langsung di area persemaian. Para peserta, baik mahasiswa maupun siswa, diajak untuk memahami bahwa konservasi bukan hanya soal aktivitas di gunung, melainkan dimulai dari kepedulian terhadap bibit-bibit pohon yang akan menjadi paru-paru dunia di masa depan. Keterlibatan Sispala se-Bojonegoro dalam acara ini juga bertujuan untuk membangun jejaring komunikasi yang kuat antarorganisasi pecinta alam sejak dini, sehingga tercipta harmoni dalam setiap gerakan lingkungan di tingkat daerah.
Seluruh peserta nampak antusias mengikuti rangkaian pembinaan dasar yang mencakup materi navigasi darat, manajemen perjalanan, hingga diskusi panel mengenai isu ekologi terkini yang dipandu oleh para rimbawan dari BKPH Pradok. Kehadiran para siswa pecinta alam memberikan warna tersendiri, di mana semangat muda mereka dipadukan dengan pengalaman organisatoris dari UKM Manupela Unugiri. Dengan adanya penguatan kesadaran lingkungan yang dilakukan secara kolektif ini, diharapkan muncul kesadaran bersama bahwa menjaga hutan di RPH Grogolan dan sekitarnya adalah tanggung jawab lintas sektor yang harus dipikul bersama demi keberlangsungan ekosistem di Bojonegoro.
Kegiatan yang berakhir pada Rabu sore ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjalin komunikasi dalam program-program konservasi selanjutnya. Melalui keberhasilan Sambada tahun 2026 ini, UKM Manupela Unugiri membuktikan bahwa pendidikan pecinta alam bukan sekadar kegiatan rekreatif, melainkan sebuah gerakan intelektual yang berakar pada kepedulian nyata terhadap kelestarian bumi melalui kolaborasi lintas sektor yang harmonis.
Editor: faradilaarfn
0 Komentar